Banyu Capital

IHSG Turun 1,13% dengan 452 Saham Melemah, Asing Net Sell Rp1,41 Triliun

Ahmad Mujib Ahmad Mujib

Penutupan 13 Agustus belum memberi konfirmasi lanjutan terhadap rebound sehari sebelumnya. Seluruh 11 sektor tetap melemah dan net foreign sell membesar menjadi sekitar Rp1,41 triliun, meski saham likuid dan beberapa bank besar memberi bantalan terbatas.

IHSG ditutup di 6.301,765, turun 72,084 poin atau 1,13%. Pada sesi II, indeks memang naik sekitar 3,4 poin dari posisi Midday di 6.298,343. Struktur pasar di bawah indeks tidak ikut pulih. Berdasarkan RTI Business, jumlah saham yang melemah bertambah dari 429 menjadi 452, sementara saham yang menguat tetap 175.

Tekanan asing juga berlanjut. Net foreign sell All Market bertambah dari sekitar Rp1,18 triliun pada sesi I menjadi Rp1,41 triliun saat penutupan. LQ45 dan IDX30 membaik dibanding posisi Midday, tetapi keduanya tetap berakhir negatif masing-masing 1,05% dan 0,96%.

Dashboard Market Notes EOD BEI 13 Agustus 2026 yang menampilkan pelemahan IHSG, breadth pasar, foreign flow, dan saham penggerak indeks
IHSG ditutup turun 1,13% pada 13 Agustus 2026 dengan 452 saham melemah dan net foreign sell sekitar Rp1,41 triliun. Sumber: BEI, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, dan CNBC Indonesia.

IHSG Menjauh dari Low, tetapi Pemulihan Sore Tetap Terbatas

IHSG dibuka di 6.388,234 dan sempat mencapai 6.390,329 sebelum turun hingga 6.281,572. Indeks kemudian menutup perdagangan di 6.301,765, sekitar 20,2 poin di atas level terendah hari itu.

Posisi tersebut menunjukkan adanya pemulihan dari tekanan terendah intraday, tetapi belum cukup untuk membawa indeks kembali mendekati area pembukaan. Dibanding posisi Midday, kenaikannya hanya sekitar 3,4 poin.

Nilai transaksi saham mencapai sekitar Rp13,605 triliun dengan volume 26,786 miliar saham dan frekuensi sekitar 1,905 juta kali. Sebagai pembanding, rata-rata harian sepanjang tahun berjalan berada di Rp22,080 triliun untuk nilai transaksi, 39,350 miliar saham untuk volume, dan 2,516 juta kali untuk frekuensi.

Nilai transaksi hari ini sekitar 38,4% di bawah rata-rata YTD. Pelemahan berlangsung luas, tetapi aktivitas perdagangan belum menunjukkan lonjakan yang mendukung pembacaan sebagai kapitulasi atau kepanikan pasar.

Seluruh Sektor Turun, tetapi Financials Menahan Tekanan Lebih Baik

Berdasarkan RTI Business, 452 saham melemah berbanding 175 saham menguat dan 164 saham tidak berubah. Jumlah saham turun mencapai sekitar 2,58 kali jumlah saham naik.

Seluruh 11 sektor juga berakhir negatif. Basic Materials turun paling dalam sekitar 2,93%, disusul Energy 2,32% dan Industrials 2,30%. Financials hanya melemah sekitar 0,21%, sehingga bertahan relatif lebih baik dibanding sektor lain.

Indeks saham likuid belum keluar dari tekanan. LQ45 turun 1,05% dan IDX30 melemah 0,96%. Keduanya memang membaik dari posisi Midday, tetapi belum kembali ke zona positif.

Pada level saham, BBCA memberi kontribusi sekitar +2,21 poin terhadap IHSG dan BBNI +0,99 poin. Bantalan tersebut berhadapan dengan tekanan AMMN sekitar -6,32 poin, BRPT -4,93 poin, BREN -3,48 poin, MDKA -3,23 poin, dan IMPC -3,16 poin.

Koreksi karena itu tidak hanya berasal dari satu atau dua saham besar. Tekanan menyebar ke banyak saham dan seluruh sektor, hanya intensitasnya berbeda. Financials dan beberapa saham bank menahan pelemahan lebih baik, sementara tekanan lebih berat muncul pada Basic Materials, Energy, Industrials, dan sejumlah saham berkapitalisasi besar.

Net Foreign Sell Bertambah sekitar Rp230 Miliar sejak Midday

Asing membukukan pembelian sekitar Rp3,83 triliun dan penjualan sekitar Rp5,24 triliun. Selisihnya menghasilkan net foreign sell All Market sekitar Rp1,41 triliun.

Dibanding posisi Midday sekitar Rp1,18 triliun, saldo net sell bertambah sekitar Rp230 miliar hingga penutupan. Dengan kata lain, sesi II belum membawa pembalikan arus asing.

Top 10 Net Foreign Buy

No. Saham Net Foreign Buy
1 BBCA Rp129,43 miliar
2 BBRI Rp38,64 miliar
3 BBNI Rp30,87 miliar
4 GGRM Rp9,14 miliar
5 EMAS Rp7,38 miliar
6 ERAA Rp5,90 miliar
7 KOTA Rp5,63 miliar
8 SRTG Rp4,14 miliar
9 BBTN Rp3,20 miliar
10 PSAB Rp2,69 miliar

Total Top 10 net foreign buy mencapai sekitar Rp237,02 miliar.

Top 10 Net Foreign Sell

No. Saham Net Foreign Sell
1 TPIA Rp183,87 miliar
2 PTRO Rp117,25 miliar
3 BRPT Rp116,72 miliar
4 DSSA Rp112,41 miliar
5 ASII Rp94,29 miliar
6 CUAN Rp78,23 miliar
7 BUMI Rp65,37 miliar
8 BRMS Rp59,79 miliar
9 ENRG Rp51,91 miliar
10 DEWA Rp51,62 miliar

Total Top 10 net foreign sell mencapai sekitar Rp931,46 miliar.

Pembelian asing terbesar pada sisi net buy muncul pada BBCA, BBRI, dan BBNI, tetapi pola tersebut belum merata pada bank besar karena BMRI berada di sisi net sell.

Pada sisi jual, tekanan besar muncul pada TPIA, PTRO, BRPT, DSSA, ASII, serta sejumlah saham energi dan komoditas. Secara agregat asing tetap menjadi penjual bersih, tetapi tekanan tersebut terkonsentrasi berbeda antar saham.

Rupiah dan Yield Belum Menunjukkan Shock Domestik yang Sejalan

JISDOR Bank Indonesia berada di Rp17.882 per dolar AS pada 13 Agustus, dibanding Rp17.876 sehari sebelumnya. Perubahannya hanya Rp6 per dolar AS.

Sementara itu, snapshot SUN tenor 10 tahun menunjukkan yield sekitar 7,151%. Data tersebut tidak memperlihatkan perubahan yang cukup ekstrem untuk menjadikan rupiah atau pasar obligasi sebagai penjelasan utama koreksi saham hari ini.

Bukti yang lebih jelas tetap datang dari internal pasar saham: breadth negatif, seluruh sektor melemah, indeks likuid turun, dan foreign flow memburuk hingga penutupan.

Konfirmasi Berikutnya Ada pada Breadth, Foreign Flow, dan Saham Likuid

Tekanan 13 Agustus akan mendapat konfirmasi lanjutan jika net foreign sell tetap besar, saham turun kembali mendominasi, dan LQ45 serta IDX30 gagal pulih. Pelemahan kembali menuju area intraday low 6.281,572 dalam kondisi tersebut akan memperkuat pembacaan negatif.

Sebaliknya, koreksi hari ini lebih layak dibaca sebagai profit taking jika penjualan asing menyusut material, breadth membaik, dan saham likuid pulih secara bersamaan. Pantulan IHSG tanpa perubahan pada tiga indikator tersebut belum cukup.

Satu sesi belum membuktikan terbentuknya tren baru. Ujian berikutnya bukan sekadar apakah IHSG naik atau turun, tetapi apakah arah indeks didukung perubahan yang sama pada partisipasi pasar dan arus dana.

Sumber: IDX, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes