Banyu Capital

IHSG Kembali di Atas 6.500, tetapi 10 Sektor Melemah dan Asing Net Sell Rp556 Miliar di Pasar Reguler

Ahmad Mujib Ahmad Mujib

IHSG memulihkan sebagian tekanan Sesi I dan kembali menutup di atas 6.500. Namun, breadth saham tetap negatif, hanya Basic Materials yang menguat, dan asing masih mencatat net sell Rp556,22 miliar di pasar reguler. Penutupan ini lebih menunjukkan stabilisasi dibanding pemulihan pasar yang sudah merata.

IHSG menutup perdagangan Senin, 24 Agustus 2026, di 6.501,667, turun 24,023 poin atau 0,37%. Posisi tersebut membaik 21,022 poin dari level Midday 6.480,645 dan berada 27,095 poin di atas titik terendah intraday 6.474,572.

Perbaikan juga terlihat pada saham likuid. IDX30 yang turun 0,91% saat Midday berakhir -0,39%, sementara LQ45 membaik dari -0,92% menjadi -0,41%. Di sisi lain, RTI masih mencatat 367 saham turun berbanding 259 saham naik dan 10 dari 11 sektor ditutup negatif. Harga membaik pada Sesi II, tetapi partisipasi pasar belum mengikuti dengan kekuatan yang sama.

Dashboard Market Notes EOD BEI 24 Agustus 2026 dengan IHSG di 6.501,667, breadth negatif, Basic Materials menguat, dan asing net sell di pasar reguler
Dashboard Market Notes EOD 24 Agustus 2026. IHSG kembali menutup di atas 6.500 setelah pulih dari tekanan Sesi I, tetapi saham turun masih mendominasi, hanya Basic Materials yang menguat, dan asing mencatat net sell Rp556,22 miliar di pasar reguler. Sumber: Bursa Efek Indonesia, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, dan CNBC Indonesia.

IHSG Pulih dari Titik Terendah, tetapi Nilai Transaksi Masih 34,5% di Bawah Rata-rata YTD

IHSG bergerak dalam rentang yang cukup lebar sepanjang hari. Indeks sempat mencapai 6.551,003 sebelum turun ke 6.474,572 dan akhirnya menutup di 6.501,667.

Nilai transaksi saham mencapai Rp14,270 triliun, dengan volume 34,232 miliar saham dan frekuensi 2,172 juta kali. Aktivitas tersebut masih lebih rendah dibanding rata-rata harian YTD Bursa Efek Indonesia yang mencatat nilai transaksi Rp21,790 triliun per hari. Nilai perdagangan 24 Agustus berarti sekitar 34,5% di bawah rata-rata tersebut.

Pemulihan IDX30 dan LQ45 yang lebih besar dibanding IHSG menunjukkan tekanan pada kelompok saham likuid berkurang sepanjang Sesi II. Meski demikian, kedua indeks masih berakhir negatif. Perbaikannya belum cukup untuk menunjukkan bahwa saham likuid sudah kembali memimpin pasar.

Basic Materials Satu-satunya Sektor Hijau saat Saham Turun Masih Mendominasi

RTI mencatat 259 saham menguat, 367 melemah, dan 166 tidak berubah. Jumlah saham turun sekitar 1,42 kali jumlah saham naik.

Struktur sektoral bahkan lebih sempit. Basic Materials menjadi satu-satunya sektor yang berakhir positif dengan kenaikan 1,38%. Properties & Real Estate turun 1,67%, Healthcare 1,59%, Transportation & Logistic 0,91%, Technology 0,77%, Consumer Cyclicals 0,68%, dan Financials 0,50%.

Meski 10 sektor ditutup merah, intensitas tekanannya tidak sama. Energy hanya turun 0,04%, Industrials 0,05%, dan Consumer Non-Cyclicals 0,13%. Karena itu, penutupan lebih tepat dibaca sebagai partisipasi yang masih sempit daripada aksi jual berat yang merata di seluruh sektor.

Kekuatan Basic Materials tercermin pada EMAS dan BRMS. EMAS menjadi kontributor positif terbesar IHSG dengan +7,68 poin, sedangkan BRMS menyumbang +5,21 poin. Dari kelompok energi, AADI dan ADRO turut menopang indeks masing-masing sekitar +1,55 dan +1,43 poin.

Di sisi lain, BYAN menjadi pemberat terbesar dengan kontribusi -8,15 poin. BBRI mengurangi IHSG sekitar 7,30 poin dan BBCA sekitar 4,41 poin. BBNI dan BMRI juga menjadi pemberat dengan kontribusi masing-masing -1,65 dan -1,63 poin.

Pemulihan indeks karena itu masih ditopang kelompok saham tertentu, sementara partisipasi pasar secara keseluruhan belum ikut menguat.

Net Sell All Market Mengecil, tetapi Asing Masih Menjual Rp556 Miliar di Reguler

Stockbit mencatat pembelian asing All Market sekitar Rp3,79 triliun dan penjualan sekitar Rp4,14 triliun. Posisi akhirnya adalah net foreign sell Rp350,71 miliar.

Pada snapshot Midday, All Market masih mencatat net sell Rp391,96 miliar. Nilai net sell All Market pada EOD menyusut Rp41,25 miliar dibanding snapshot Midday.

Komposisinya tetap penting. Pasar reguler mencatat net sell Rp556,22 miliar, sedangkan pasar Tunai dan Negosiasi membukukan net buy Rp205,51 miliar. Karena itu, angka All Market yang lebih kecil belum menunjukkan kembalinya pembelian asing secara luas di pasar reguler.

Top 10 Net Foreign Buy

Saham Estimasi Net Buy
TINS Rp99,48 miliar
BRMS Rp56,25 miliar
EMAS Rp53,06 miliar
AADI Rp41,19 miliar
ADRO Rp31,81 miliar
ANTM Rp29,83 miliar
PACK Rp27,37 miliar
BMRI Rp21,80 miliar
BBCA Rp17,25 miliar
ICBP Rp15,20 miliar

Top 10 Net Foreign Sell

Saham Estimasi Net Sell
BBRI Rp178,02 miliar
BUMI Rp105,09 miliar
TPIA Rp89,28 miliar
ISAT Rp67,77 miliar
DSSA Rp56,31 miliar
BBNI Rp53,95 miliar
AMMN Rp35,38 miliar
CUAN Rp33,45 miliar
SMGR Rp27,52 miliar
BREN Rp23,54 miliar

Arus asing juga tetap selektif. TINS, BRMS, EMAS, AADI, ADRO, dan ANTM berada di sisi net buy, sehingga pembelian asing cukup terlihat pada sejumlah saham berbasis logam, tambang, dan komoditas.

Perbankan terbelah. BMRI dan BBCA masuk daftar net foreign buy, sedangkan BBRI dan BBNI berada di sisi net foreign sell. Artinya, tekanan asing pada bank besar tidak berlangsung seragam.

BBCA dan BMRI juga tetap menjadi pemberat IHSG meskipun keduanya berakhir dengan net foreign buy. Arah foreign flow satu hari karena itu tidak otomatis sama dengan arah harga saham pada sesi yang sama.

26 Agustus: Breadth, Foreign Flow Reguler, dan Area 6.525 Menjadi Tiga Uji Utama

Cross-asset belum menambah konfirmasi yang berarti terhadap pemulihan Sesi II. JISDOR Bank Indonesia berada di Rp17.703 per dolar AS, nyaris tidak berubah dari Rp17.705 pada 21 Agustus. Yield SUN 10 tahun berada di 7,041%, sementara beberapa indeks utama Asia masih ditutup negatif.

Fokus utama 26 Agustus tetap berada pada struktur pasar domestik. Konfirmasi pertama datang dari breadth. Pemulihan akan lebih kuat jika jumlah saham naik kembali melampaui saham turun dan penguatan menyebar ke lebih banyak sektor.

Konfirmasi kedua datang dari saham likuid dan foreign flow. IDX30 dan LQ45 perlu mempertahankan perbaikan relatif, sementara net sell pasar reguler perlu mengecil atau berubah menjadi net buy. Komposisi arus pada bank besar juga perlu dipantau karena BBRI dan BBNI masih berada di sisi jual, sedangkan BMRI dan BBCA telah berpindah ke sisi beli.

Konfirmasi ketiga datang dari harga indeks. Penutupan sebelumnya di 6.525,690 menjadi referensi awal untuk menilai apakah IHSG dapat memperpanjang pemulihan di atas 6.500. Sementara itu, titik terendah 24 Agustus di 6.474,572 menjadi batas risiko jika ditembus kembali bersamaan dengan breadth yang memburuk dan net sell reguler yang membesar.

Kemampuan IHSG melewati 6.525,690 akan lebih berarti jika disertai perbaikan partisipasi pasar dan arus asing reguler. Sebaliknya, penembusan kembali 6.474,572 bersama memburuknya kondisi internal akan melemahkan pembacaan stabilisasi yang terbentuk pada 24 Agustus.

Sumber: IDX, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes