Banyu Capital

IHSG Naik 0,60% dengan 385 Saham dan 9 Sektor Menguat, Asing Net Buy Rp973 Miliar

Ahmad Mujib Ahmad Mujib

Kenaikan IHSG pada Sesi I berjalan bersama 385 saham yang menguat, sembilan sektor positif, kenaikan lebih dari 1% pada IDX30 dan LQ45, serta net buy asing hampir Rp1 triliun. Namun, IHSG sudah mundur 21,65 poin dari level tertinggi, sementara pembelian asing banyak terkonsentrasi pada BBRI, BBCA, dan BMRI.

IHSG menguat 39,04 poin atau 0,60% ke 6.564,51 pada penutupan Sesi I Selasa, 1 September 2026. Kenaikan tersebut tidak berdiri pada indeks saja. Sebanyak 385 saham menguat, sembilan dari 11 sektor berada di zona positif, IDX30 dan LQ45 naik lebih dari 1%, sementara asing mencatat net buy All Market Rp972,64 miliar.

Perubahan paling jelas dibanding perdagangan sebelumnya terlihat pada arus asing. Pada 31 Agustus, asing masih mencatat net buy saat Midday sebelum berbalik menjadi net sell Rp434,25 miliar pada penutupan. Sesi I hari ini kembali menunjukkan arus masuk, bersamaan dengan kepemimpinan saham likuid dan breadth yang tetap positif.

Dukungan itu belum teruji sampai penutupan. IHSG telah mundur dari level tertinggi 6.586,16, sementara sebagian besar estimasi pembelian asing berasal dari beberapa saham bank besar. Sesi II akan menguji apakah kondisi tersebut bertahan.

Dashboard Market Notes BEI Sesi I 1 September 2026 yang menampilkan IHSG, breadth pasar, indeks likuid, sektor, dan foreign flow
IHSG naik 0,60% ke 6.564,51 pada Sesi I 1 September 2026 dengan 385 saham menguat, sembilan sektor positif, serta foreign net buy All Market Rp972,64 miliar. Sumber: RTI Business, Stockbit, dan Stockbit Sekuritas.

IHSG Tetap di Atas Penutupan Kemarin, tetapi Mundur dari 6.586

IHSG membuka perdagangan di 6.538,12, kemudian bergerak antara 6.535,80 dan 6.586,16. Nilai transaksi All Market mencapai sekitar Rp10,21 triliun dengan volume 28,50 miliar saham dan frekuensi sekitar 1,54 juta kali.

Level terendah Sesi I masih sekitar 10,32 poin di atas penutupan 31 Agustus di 6.525,48. Dengan kata lain, tekanan jual sepanjang paruh pertama perdagangan belum menghapus kenaikan dari penutupan sebelumnya.

Momentum memang berkurang setelah indeks menyentuh 6.586,16. Pada jeda perdagangan, IHSG berada 21,65 poin atau sekitar 0,33% di bawah level tertinggi Sesi I.

Pergerakan tersebut membuat 6.535,80 relevan sebagai referensi pertama pada Sesi II. Selama indeks bertahan di atas area terendah Sesi I dan indikator internal tidak memburuk secara bersamaan, penurunan dari level tertinggi masih lebih tepat dibaca sebagai pelemahan momentum intraday daripada pembalikan kondisi pasar.

Breadth dan Saham Likuid Sama-Sama Mendukung Kenaikan

Sebanyak 385 saham menguat, 221 melemah, dan 183 tidak berubah. Rasio saham naik terhadap saham turun mencapai sekitar 1,74 kali, sehingga kenaikan IHSG masih disertai partisipasi pasar yang cukup luas.

Sembilan dari 11 sektor berada di zona positif. Industrials memimpin dengan kenaikan 2,45%, disusul Energy 1,50%, Transportation 1,26%, dan Financials 1,13%.

Healthcare menguat 0,58%, Consumer Cyclicals 0,45%, Consumer Non-Cyclicals 0,34%, Property 0,33%, dan Basic Materials 0,04%. Infrastructure turun 0,26% dan Technology melemah 0,09%.

Saham likuid juga bergerak lebih kuat daripada IHSG. IDX30 naik 1,21% dan LQ45 1,16%, hampir dua kali kenaikan IHSG sebesar 0,60%.

Partisipasi tidak berhenti pada saham berkapitalisasi besar. IDX SMC Liquid menguat 1,56% dan IDX SMC Composite naik 1,19%. Artinya, kepemimpinan saham likuid pada Sesi I masih berjalan bersama penguatan kelompok kapitalisasi kecil-menengah.

Asing Net Buy Rp973 Miliar, tetapi Banyak Terkonsentrasi di Bank Besar

Perubahan paling tegas terlihat pada foreign flow. Stockbit Sekuritas mencatat foreign buy All Market sekitar Rp2,99 triliun dan foreign sell Rp2,02 triliun, sehingga menghasilkan net buy Rp972,64 miliar pada Sesi I.

BBRI mencatat estimasi net buy terbesar sekitar Rp405,96 miliar. BBCA berada di sekitar Rp160,20 miliar dan BMRI Rp124,64 miliar.

Estimasi gabungan ketiganya mencapai Rp690,80 miliar, atau sekitar 71% jika dibandingkan dengan net buy All Market. Nilai transaksi individual Stockbit dihitung menggunakan harga rata-rata Sesi I, sehingga angka tersebut lebih tepat dipakai sebagai indikasi konsentrasi daripada komposisi transaksi asing resmi.

Top 10 Estimasi Net Foreign Buy

Saham Estimasi Net Buy
BBRI Rp405,96 miliar
BUMI Rp178,78 miliar
BBCA Rp160,20 miliar
BMRI Rp124,64 miliar
PTBA Rp61,91 miliar
CPIN Rp57,05 miliar
SMGR Rp39,97 miliar
TINS Rp39,86 miliar
ESSA Rp30,77 miliar
CUAN Rp28,44 miliar

Tekanan jual asing terbesar berada pada KOTA dengan estimasi Rp99,18 miliar, disusul EMAS Rp53,91 miliar, ISAT Rp45,06 miliar, IATA Rp35,29 miliar, dan BRMS Rp35,04 miliar.

Top 10 Estimasi Net Foreign Sell

Saham Estimasi Net Sell
KOTA Rp99,18 miliar
EMAS Rp53,91 miliar
ISAT Rp45,06 miliar
IATA Rp35,29 miliar
BRMS Rp35,04 miliar
DMAS Rp29,83 miliar
ASII Rp14,65 miliar
TLKM Rp14,23 miliar
AKRA Rp11,70 miliar
INDF Rp10,86 miliar

Besarnya net buy agregat belum menunjukkan pembelian yang merata. Estimasi transaksi justru memperlihatkan konsentrasi cukup besar pada BBRI, BBCA, dan BMRI.

Data yang tersedia belum merinci foreign flow pasar reguler Sesi I 1 September. Pembacaan arus asing untuk periode ini karena itu terbatas pada All Market.

Perdagangan 31 Agustus menunjukkan mengapa perkembangan Sesi II tetap penting. Ketika itu, posisi asing yang masih net buy pada Midday berubah menjadi net sell pada penutupan. Arus masuk hari ini baru memperoleh konfirmasi lebih kuat jika bertahan sampai EOD.

Sesi II Menguji Apakah Dukungan Ini Bertahan

Level 6.535,80 menjadi referensi harga pertama, tetapi satu level indeks saja tidak cukup untuk membatalkan pembacaan Sesi I.

Tekanan menjadi lebih material jika IHSG menembus level terendah tersebut bersamaan dengan berubahnya breadth menjadi negatif, hilangnya kepemimpinan IDX30 dan LQ45, serta foreign flow yang kembali menjadi net sell.

Sebaliknya, breadth yang tetap positif, saham likuid yang terus berpartisipasi, dan arus asing yang bertahan masuk akan memperkuat konfirmasi Sesi I. Pengujian kembali 6.586,16 akan menambah momentum, tetapi bukan satu-satunya ukuran.

Karena itu, ukuran terpenting pada Sesi II bukan hanya apakah IHSG kembali menguji 6.586,16. Yang lebih menentukan adalah apakah partisipasi saham tetap positif, saham likuid terus memimpin, dan arus asing bertahan masuk sampai penutupan.

Sumber: Stockbit Sekuritas, RTI Business, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes