Banyu Capital

IHSG Berbalik Turun 0,49% dan Lepas 6.400, 10 Sektor Melemah meski Asing Net Buy Rp394 Miliar

Ahmad Mujib Ahmad Mujib

IHSG kehilangan seluruh kenaikan awal pada sesi I Senin, 10 Agustus 2026. Setelah sempat naik 0,83% ke 6.462,738, indeks berbalik turun 31,255 poin atau 0,49% ke 6.378,399, hanya beberapa poin di atas level terendah sesi.

Tekanan tidak berhenti pada indeks. Sebanyak 315 saham melemah dibanding 275 yang menguat, 10 dari 11 sektor turun, sementara LQ45 dan IDX30 masing-masing terkoreksi 0,77%. Investor asing masih mencatat net buy All Market Rp393,71 miliar, tetapi komposisinya menunjukkan pembelian yang belum tersebar merata.

Dashboard Market Notes Midday 10 Agustus 2026 yang menampilkan reversal IHSG, breadth pasar, sektor, indeks likuid, dan foreign flow
IHSG turun 0,49% ke 6.378,399 pada jeda siang 10 Agustus 2026 setelah sempat menyentuh 6.462,738. Sebanyak 10 dari 11 sektor melemah, sementara investor asing masih mencatat net buy All Market Rp393,71 miliar. Sumber: Stockbit Sekuritas dan RTI Business.

Perbedaannya dengan Jumat cukup jelas. Pada 7 Agustus, IHSG ditutup di 6.409,654 tepat pada level tertinggi harian, breadth positif, 10 sektor menguat, LQ45 dan IDX30 mengungguli IHSG, serta net buy asing mencapai sekitar Rp1,24 triliun. Sesi I Senin menunjukkan sebagian dukungan itu tidak berlanjut, terutama pada harga, breadth, dan saham likuid.

Kenaikan Awal Berubah Menjadi Posisi Dekat Level Terendah

IHSG membuka perdagangan di 6.440,597 dan sempat mencapai 6.462,738. Dari puncak tersebut, indeks kehilangan 84,339 poin atau sekitar 1,31% hingga jeda siang.

Posisi 6.378,399 hanya 5,476 poin di atas low 6.372,923. Dibanding seluruh rentang intraday sebesar 89,815 poin, posisi IHSG berada sekitar 6,1% dari dasar rentang tersebut. Tekanan intraday karena itu lebih besar daripada yang terlihat dari koreksi harian 0,49%.

Nilai transaksi sesi I mencapai Rp11,599 triliun dengan volume 32,976 miliar saham dan frekuensi sekitar 1,715 juta kali.

Koreksi Senin belum menghapus seluruh penguatan Jumat. Penurunan 31,255 poin baru setara sekitar 47,4% dari kenaikan 65,943 poin pada perdagangan sebelumnya. Data sesi I karena itu lebih mendukung pembacaan bahwa dukungan yang muncul pada Jumat melemah, bukan bahwa tren baru sudah terbentuk.

Breadth Berbalik Negatif dan Saham Likuid Ikut Tertinggal

RTI Business mencatat 275 saham menguat, 315 melemah, dan 203 tidak berubah. Rasio saham naik terhadap saham turun berada di sekitar 0,87 kali.

Sepuluh dari sebelas sektor berada di zona merah. Industrial mencatat tekanan terbesar sebesar 1,09%, diikuti Barang Konsumen Primer 0,82% dan Teknologi 0,67%. Transportasi dan Logistik menjadi satu-satunya sektor positif dengan kenaikan 4,88%.

GIAA dan GMFI termasuk saham yang menguat paling tinggi, masing-masing 29,63% dan 24,07%. Data yang tersedia belum cukup untuk menentukan seberapa besar kontribusi keduanya terhadap kenaikan indeks sektoral.

Tekanan juga terlihat pada kelompok saham likuid. LQ45 dan IDX30 masing-masing turun 0,77%, sekitar 0,28 poin persentase lebih dalam daripada IHSG.

Kondisi tersebut berlawanan dengan Jumat, ketika LQ45 naik 1,50% dan IDX30 1,45%, keduanya mengungguli kenaikan IHSG sebesar 1,04%. Partisipasi saham likuid yang sebelumnya memperkuat pasar belum berlanjut pada sesi I Senin.

Asing Masih Net Buy, tetapi Alirannya Selektif

Investor asing membukukan pembelian sekitar Rp3,32 triliun dan penjualan Rp2,93 triliun di seluruh pasar. Selisihnya menghasilkan net buy sekitar Rp393,71 miliar.

Saldo asing masih positif, tetapi dukungannya tidak merata. Komposisi per saham menunjukkan pembelian besar terkonsentrasi pada sejumlah saham, sementara tekanan jual tetap muncul pada beberapa saham likuid utama.

DSSA mencatat estimasi net foreign buy terbesar sebesar Rp216,46 miliar, setara sekitar 55% saldo bersih asing seluruh pasar. MDKA berada di urutan berikutnya dengan Rp62,70 miliar, kemudian TINS Rp35,79 miliar dan PSAB Rp30,20 miliar.

Di sisi jual, TPIA mencatat estimasi net foreign sell Rp244,77 miliar, BMRI Rp212,57 miliar, BBRI Rp97,13 miliar, dan ASII Rp82,50 miliar. Jika BBCA dan BBNI ikut diperhitungkan, empat bank besar secara gabungan menghasilkan estimasi arus asing sekitar minus Rp270,07 miliar.

Dengan komposisi tersebut, saldo positif Rp393,71 miliar belum cukup untuk menunjukkan pembelian asing yang luas di seluruh pasar.

10 Saham dengan Net Foreign Buy Terbesar

Saham Estimasi net foreign buy
DSSA Rp216,46 miliar
MDKA Rp62,70 miliar
TINS Rp35,79 miliar
PSAB Rp30,20 miliar
BBCA Rp28,38 miliar
ESSA Rp24,92 miliar
MDIA Rp19,62 miliar
BREN Rp14,89 miliar
BBNI Rp11,25 miliar
EMAS Rp8,55 miliar

10 Saham dengan Net Foreign Sell Terbesar

Saham Estimasi net foreign sell
TPIA Rp244,77 miliar
BMRI Rp212,57 miliar
BBRI Rp97,13 miliar
ASII Rp82,50 miliar
BRPT Rp58,34 miliar
TLKM Rp47,64 miliar
ANTM Rp42,32 miliar
ISAT Rp32,61 miliar
PTRO Rp30,80 miliar
BRMS Rp17,32 miliar

Nilai foreign flow per saham merupakan estimasi Stockbit berdasarkan harga rata-rata sesi I dikalikan volume bersih asing.

Area 6.400 Kembali Menjadi Ujian pada Sesi Kedua

Area 6.400 kembali menjadi pembeda utama pada sesi kedua. Selama IHSG bertahan di bawah area itu, breadth masih negatif, serta LQ45 dan IDX30 belum pulih, tekanan sesi I belum kehilangan dasar. Pelemahan akan bertambah kuat jika indeks menembus low 6.372,923 dan foreign flow ikut memburuk.

Pembacaan itu berubah jika IHSG merebut kembali 6.400, jumlah saham naik kembali melampaui saham turun, indeks likuid pulih, dan net buy asing bertahan dengan sebaran yang lebih luas. Sesi kedua akan menunjukkan apakah perbedaan arah antara harga dan arus asing mulai menyempit atau justru semakin lebar.

Sumber: Stockbit Sekuritas, RTI Business, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes