IHSG Naik 1,26% dan Asing Berbalik Net Buy Rp113 Miliar, tetapi Saham Likuid Masih Tertinggal
IHSG melanjutkan rebound pada perdagangan sesi 1 Selasa, 18 Agustus 2026, dengan kenaikan 1,26% ke 6.482,57. Penguatan mendapat dukungan dari breadth yang lebih sehat dan perubahan foreign flow menjadi net buy. Namun, LQ45, IDX30, dan sektor Financials belum mengikuti kekuatan IHSG secara penuh.
IHSG melanjutkan penguatan setelah perdagangan terakhir pada 14 Agustus 2026. Indeks naik 80,68 poin atau 1,26% ke 6.482,57 pada akhir sesi 1, setelah dibuka di 6.448,83 dan sempat menyentuh 6.490,65.
IHSG juga mampu mempertahankan hampir seluruh kenaikan sejak pembukaan. Titik terendah sesi 1 berada di 6.448,26, hampir sama dengan harga pembukaan, sementara posisi akhir sesi hanya sekitar delapan poin di bawah level tertinggi.
Kenaikan tidak hanya terlihat pada indeks. Sebanyak 397 saham menguat, 218 melemah, dan 178 tidak berubah. Sembilan dari sebelas sektor juga berada di zona positif.
Dengan harga bertahan dekat high dan jumlah saham naik jauh lebih banyak daripada saham turun, follow-through rebound 14 Agustus terlihat lebih kuat pada sesi 1. Penguatan tetap belum sepenuhnya merata karena saham-saham paling likuid dan sektor keuangan masih tertinggal.
Breadth Menguat dan IHSG Bertahan Dekat Level Tertinggi Sesi 1
Nilai transaksi hingga akhir sesi 1 mencapai sekitar Rp8,18 triliun dengan volume 19,97 miliar saham dan frekuensi transaksi sekitar 1,33 juta kali.
Jumlah saham naik mencapai 397 dibanding 218 saham turun, menghasilkan rasio sekitar 1,82 kali. Partisipasi yang cukup luas membuat penguatan sesi 1 tidak hanya terlihat pada level IHSG.
Energy memimpin kenaikan 2,68%, disusul Infrastructure 1,73% dan Basic Materials 1,39%. Dari sebelas sektor, hanya Property turun 0,62% dan Financials melemah 0,14%.
Partisipasi pasar membaik, tetapi belum seluruh sektor maupun kelompok saham bergerak searah.
Asing Berbalik Net Buy, tetapi Arus Dana Masih Selektif
Perbaikan juga terlihat pada arus asing.
Investor asing membukukan pembelian sekitar Rp2,22 triliun dan penjualan Rp2,11 triliun pada sesi 1. Hasilnya, pasar mencatat net foreign buy sekitar Rp112,88 miliar.
Arah foreign flow membaik dibanding penutupan 14 Agustus yang masih mencatat net sell. Perbandingan ini hanya menunjukkan perubahan arah karena data 18 Agustus masih mencakup sesi 1, sedangkan data 14 Agustus merupakan data satu hari penuh.
Nominal net buy tersebut belum cukup untuk menunjukkan bahwa arus asing telah kembali kuat. Selisih bersihnya masih kecil dibanding pembelian dan penjualan bruto asing yang masing-masing berada di atas Rp2 triliun.
Distribusi transaksi juga masih dua arah. Tekanan jual asing besar tetap terlihat pada beberapa saham besar, sehingga agregat foreign flow yang positif lebih tepat dibaca sebagai perbaikan awal daripada arus masuk yang sudah kuat dan merata.
Top 10 Net Foreign Buy
| Saham | Net Foreign Buy |
|---|---|
| BBCA | Rp98,37 miliar |
| ANTM | Rp62,35 miliar |
| BRMS | Rp56,47 miliar |
| EMAS | Rp31,27 miliar |
| BUMI | Rp30,77 miliar |
| BMRI | Rp30,75 miliar |
| INDY | Rp29,23 miliar |
| INET | Rp27,39 miliar |
| AADI | Rp20,46 miliar |
| WIFI | Rp16,86 miliar |
Top 10 Net Foreign Sell
| Saham | Net Foreign Sell |
|---|---|
| ISAT | Rp131,31 miliar |
| TPIA | Rp88,07 miliar |
| DSSA | Rp81,53 miliar |
| BBRI | Rp55,55 miliar |
| ASII | Rp31,80 miliar |
| ADMR | Rp19,93 miliar |
| TLKM | Rp19,43 miliar |
| MDKA | Rp18,18 miliar |
| BYAN | Rp16,98 miliar |
| TINS | Rp15,78 miliar |
Nilai per saham merupakan estimasi Stockbit Sekuritas berdasarkan harga rata-rata sesi 1 dan volume transaksi asing bersih.
Bank besar memperlihatkan pola yang belum seragam. BBCA mencatat net buy Rp98,37 miliar, BMRI Rp30,75 miliar, dan BBNI sekitar Rp15,35 miliar. Sebaliknya, BBRI masih mengalami net sell sekitar Rp55,55 miliar.
Arus tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa investor asing telah kembali membeli seluruh kelompok bank besar.
LQ45 dan IDX30 Masih Tertinggal dari IHSG
Catatan utama sesi 1 terdapat pada perbedaan kinerja IHSG dengan indeks saham likuid.
IHSG naik 1,26%, sedangkan LQ45 menguat 0,72% dan IDX30 naik 0,66%. Sektor Financials juga masih turun 0,14%.
LQ45 dan IDX30 tetap positif sehingga ketertinggalannya tidak membatalkan rebound. Namun, saham-saham paling likuid belum memimpin penguatan dengan kecepatan yang sama seperti IHSG.
Ketertinggalan LQ45 dan IDX30 juga bisa mencerminkan rotasi yang melebar ke luar kelompok big caps. Karena itu, perbedaan tersebut lebih tepat menjadi syarat validasi berikutnya daripada alasan untuk menolak penguatan yang sudah terjadi.
Sesi 2 Akan Menguji Apakah Penguatan Makin Merata
Sesi 1 memberi tiga sinyal konstruktif sekaligus: IHSG bertahan dekat level tertinggi, breadth cukup luas, dan foreign flow berubah menjadi net buy.
Tiga bukti masih perlu muncul agar penguatan menjadi lebih merata. Net foreign buy perlu bertahan atau membesar hingga penutupan, LQ45 dan IDX30 perlu mempersempit ketertinggalannya terhadap IHSG, dan Financials perlu menunjukkan stabilisasi atau mulai berbalik positif.
Area sekitar 6.448, yang berdekatan dengan pembukaan dan titik terendah sesi 1, menjadi referensi untuk mengukur kemampuan pasar mempertahankan gap-up.
Jika IHSG bertahan dekat area 6.480 sampai penutupan, breadth tetap positif, dan arus asing tidak kembali negatif, rebound akan memperoleh validasi yang lebih kuat.
Sebaliknya, jika indeks kembali mendekati area pembukaan bersamaan dengan penyempitan breadth dan perubahan foreign flow menjadi net sell, kualitas follow-through sesi 1 akan melemah.
Sejauh sesi 1, rebound terlihat lebih sehat, tetapi belum seluruh bagian pasar bergerak dengan kekuatan yang sama.
Sumber: Stockbit Sekuritas, RTI Business, Banyu Capital.
Ikuti Banyu Capital
Dapatkan catatan pasar, analisis saham, energi, makro, dan geopolitik langsung melalui email.