Banyu Capital

IHSG Turun 0,91% di Sesi 1, Asing Net Sell Rp823 Miliar

Dashboard rekap sesi 1 BEI 26 Mei 2026 menunjukkan IHSG turun 0,91 persen ke 6.149,68 dan asing mencatat net sell Rp823,30 miliar.
Dashboard rekap sesi 1 BEI 26 Mei 2026 menunjukkan IHSG turun 0,91 persen ke 6.149,68, sementara asing mencatat net sell Rp823,30 miliar. Tekanan jual asing terbesar terlihat di BBCA, TPIA, BBRI, BREN, dan DSSA. Data: Stockbit Sekuritas.

Tekanan asing masih terlihat di saham bank besar dan beberapa big cap. Namun, arus masuk selektif tetap muncul di MDKA, EMAS, TLKM, PTRO, dan sejumlah saham komoditas.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada perdagangan sesi 1 Selasa, 26 Mei 2026. Berdasarkan data Stockbit Sekuritas, IHSG berada di level 6.149,68, turun 56,67 poin atau 0,91 persen.

Tekanan indeks berjalan searah dengan arus dana asing yang masih keluar bersih. Pada sesi 1, investor asing mencatat foreign buy Rp2,83 triliun dan foreign sell Rp3,66 triliun. Selisihnya menghasilkan net foreign sell Rp823,30 miliar.

Tekanan asing terutama terlihat pada sejumlah saham berkapitalisasi besar seperti BBCA, TPIA, BBRI, dan BREN. Namun, pasar tidak sepenuhnya ditinggalkan karena pembelian asing masih muncul secara selektif di MDKA, EMAS, TLKM, PTRO, dan BRPT.

Asing Masih Keluar Bersih dari Pasar

Data sesi 1 menunjukkan tekanan asing masih menjadi salah satu faktor penting dalam pergerakan IHSG. Nilai jual asing lebih besar daripada nilai beli asing, sehingga pasar belum memperoleh dukungan arus dana yang cukup kuat untuk menopang indeks.

Komponen Data Sesi 1
IHSG 6.149,68
Perubahan poin -56,67
Perubahan harian -0,91%
Foreign Buy Rp2,83T
Foreign Sell Rp3,66T
Net Foreign Sell Rp823,30B

Angka ini perlu dibaca sebagai data sementara sesi 1, bukan kesimpulan akhir perdagangan hari ini. Arah pasar masih bisa berubah pada sesi 2, terutama jika tekanan asing mengecil atau saham berkapitalisasi besar mulai memangkas pelemahan.

Bagi pasar, net foreign sell sebesar Rp823,30 miliar menunjukkan arus asing pada sesi 1 masih cenderung keluar bersih dari saham Indonesia. Selama arus keluar asing belum mereda, ruang pemulihan IHSG cenderung membutuhkan dukungan dari saham-saham berkapitalisasi besar.

Jual Asing Terkonsentrasi di Saham Big Cap

Tekanan asing terbesar pada sesi 1 terlihat pada sejumlah saham berkapitalisasi besar. BBCA menjadi saham dengan net foreign sell terbesar, disusul TPIA, BBRI, BREN, DSSA, AMRT, AMMN, CUAN, ASII, dan BMRI.

Peringkat Kode Net Foreign Sell
1 BBCA Rp234,15B
2 TPIA Rp139,31B
3 BBRI Rp138,53B
4 BREN Rp138,19B
5 DSSA Rp87,38B
6 AMRT Rp86,72B
7 AMMN Rp78,62B
8 CUAN Rp63,09B
9 ASII Rp42,41B
10 BMRI Rp15,04B

Tekanan di BBCA, BBRI, dan BMRI menjadi penting karena sektor keuangan memiliki bobot besar terhadap IHSG. Ketika saham bank besar dilepas asing, indeks biasanya lebih sulit membentuk pemulihan yang kuat dalam waktu pendek.

Tekanan di TPIA, BREN, DSSA, AMMN, dan CUAN juga menunjukkan bahwa pelemahan tidak hanya terjadi di sektor keuangan. Beberapa saham berkapitalisasi besar di luar perbankan juga masih menjadi sumber jual asing pada sesi 1.

Dengan komposisi seperti ini, pelemahan IHSG lebih tepat dibaca sebagai tekanan pada saham-saham kunci, bukan hanya koreksi teknikal indeks.

Pembelian Asing Masih Selektif

Di sisi lain, asing tidak sepenuhnya meninggalkan pasar. Pembelian bersih masih terlihat pada sejumlah saham, terutama MDKA, EMAS, TLKM, PTRO, BRPT, BRMS, ANTM, NCKL, RMKE, dan BIPI.

Peringkat Kode Net Foreign Buy
1 MDKA Rp92,27B
2 EMAS Rp40,65B
3 TLKM Rp38,44B
4 PTRO Rp17,16B
5 BRPT Rp14,77B
6 BRMS Rp11,98B
7 ANTM Rp9,52B
8 NCKL Rp7,51B
9 RMKE Rp6,84B
10 BIPI Rp6,10B

MDKA menjadi penerima net foreign buy terbesar dengan nilai Rp92,27 miliar. Setelah itu, EMAS mencatat net foreign buy Rp40,65 miliar, sementara TLKM mencatat net foreign buy Rp38,44 miliar.

Pola ini menunjukkan bahwa asing masih memilih saham secara selektif. Arus masuk tampak lebih kuat pada tema komoditas, emas, telekomunikasi, dan energi. Namun, pembelian selektif ini belum cukup untuk mengimbangi tekanan jual di saham-saham besar lain.

Bagi investor, data ini memberi pesan penting: pasar memang sedang defensif, tetapi rotasi dan seleksi saham masih berjalan. Artinya, pembacaan pasar tidak cukup hanya melihat IHSG turun, tetapi juga perlu melihat ke mana arus dana asing masih masuk.

Sektor Mayoritas Merah, Transport Jadi Pengecualian

Dari sisi sektoral, tekanan pasar terlihat cukup luas. Mayoritas sektor berada di zona merah pada sesi 1. Industrial menjadi sektor paling tertekan dengan koreksi 2,08 persen, disusul Non-Cyclical yang turun 1,72 persen dan Cyclical yang turun 1,35 persen.

Sektor Perubahan
Transport +1,50%
Health 0,00%
Infrastructure -0,02%
Basic-Industry -0,07%
Energy -0,34%
Technology -0,37%
Property -1,11%
Finance -1,19%
Cyclical -1,35%
Non-Cyclical -1,72%
Industrial -2,08%

Transport menjadi pengecualian karena masih menguat 1,50 persen. Health relatif datar, sementara Infrastructure dan Basic-Industry hanya melemah tipis.

Peta sektor ini menunjukkan bahwa tekanan utama datang dari sektor yang sensitif terhadap daya beli, aktivitas industri, dan saham keuangan. Koreksi Finance sebesar 1,19 persen juga memperkuat tekanan terhadap IHSG karena sektor ini memiliki pengaruh besar terhadap indeks.

Sementara itu, pelemahan Energy yang relatif terbatas, hanya 0,34 persen, sejalan dengan masih adanya pembelian asing selektif pada beberapa saham energi dan komoditas.

Sesi 2 Menunggu Konfirmasi

Memasuki sesi 2, fokus pasar berada pada tiga hal. Pertama, apakah IHSG mampu bertahan di atas area 6.100. Kedua, apakah net foreign sell mengecil atau justru membesar hingga penutupan. Ketiga, apakah saham bank besar dan big cap mampu memangkas tekanan jual.

Skenario positif untuk sesi 2 adalah IHSG mampu memangkas pelemahan jika tekanan asing di bank besar mulai mereda dan net foreign sell mengecil. Sebaliknya, skenario negatif terbuka jika jual asing bertambah besar dan sektor Finance, Non-Cyclical, serta Industrial tetap menjadi pemberat indeks hingga penutupan.

Jika net foreign sell tetap membesar hingga akhir perdagangan, IHSG berisiko tetap defensif. Tekanan akan semakin kuat jika BBCA, BBRI, BMRI, ASII, TPIA, dan BREN masih menjadi sumber jual asing.

Sebaliknya, peluang indeks memangkas pelemahan tetap terbuka jika tekanan asing mulai mereda dan saham berkapitalisasi besar kembali stabil. Konfirmasi ini penting karena data sesi 1 hanya memberi gambaran awal, bukan hasil akhir perdagangan.

Untuk sementara, pesan utama dari sesi 1 adalah pasar masih berada dalam mode hati-hati. Asing masih keluar bersih, sektor mayoritas melemah, tetapi pembelian selektif tetap terlihat pada saham tertentu. Dengan kondisi seperti ini, investor perlu membaca pasar secara lebih selektif, bukan hanya mengikuti arah indeks.

Sumber: Stockbit Sekuritas, data sesi 1 BEI 26 Mei 2026. Nilai net foreign buy/sell berdasarkan estimasi harga rata-rata sesi 1 dikalikan volume bersih.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes