IHSG Rebound 1,43% di Sesi 1, tetapi Asing Masih Net Sell Rp1,64 Triliun
IHSG berhasil rebound pada perdagangan sesi 1 Jumat, 29 Mei 2026. Indeks naik 87,69 poin atau 1,43 persen ke level 6.217,88. Secara permukaan, pasar terlihat kembali bergerak positif.
Namun, pembacaan pasar hari ini tidak bisa berhenti pada kenaikan indeks. Di balik IHSG yang menghijau, investor asing masih mencatat net foreign sell Rp1,64 triliun di seluruh pasar. Foreign Buy tercatat Rp7,50 triliun, sementara Foreign Sell lebih besar di Rp9,14 triliun.
Artinya, rebound sesi 1 masih perlu dibaca sebagai pemulihan yang selektif. Indeks memang menguat, tetapi arus asing belum sepenuhnya mengonfirmasi bahwa tekanan pasar sudah mereda.
Rotasi Sektor Menopang IHSG
Kenaikan IHSG pada sesi 1 terutama ditopang rotasi ke beberapa sektor siklikal dan komoditas. Basic Industry menjadi sektor paling kuat dengan kenaikan 4,69 persen. Infrastructure menyusul dengan penguatan 3,18 persen, Energy naik 3,01 persen, dan Cyclical menguat 2,26 persen.
Industrial juga menguat 1,15 persen, Technology naik 0,95 persen, dan Transport bertambah 0,72 persen. Namun, tidak semua sektor ikut bergerak positif. Finance masih turun 0,24 persen, Non-Cyclical melemah 0,22 persen, Property turun 0,17 persen, dan Health terkoreksi tipis 0,07 persen.
Dengan komposisi seperti ini, rebound IHSG lebih terlihat sebagai rotasi selektif daripada pemulihan merata. Kenaikan Basic Industry, Energy, dan Infrastructure membantu indeks bergerak positif, tetapi pelemahan sektor Finance menunjukkan saham perbankan besar belum sepenuhnya menjadi jangkar penguatan. Ini membuat konfirmasi dari sesi 2 tetap penting.
Foreign Flow Masih Menjadi Risiko Utama
Data foreign flow menjadi konflik utama perdagangan sesi 1. IHSG naik cukup kuat, tetapi tekanan jual asing masih besar. Ini menunjukkan bahwa kenaikan indeks lebih banyak mencerminkan rotasi dan pantulan teknikal, bukan pembalikan arus dana asing secara agregat.
Pembelian asing memang tetap terjadi pada sejumlah saham. Berdasarkan data Foreign Transaction Midday Stockbit Sekuritas 29 Mei 2026, ASII menjadi saham dengan net foreign buy terbesar sebesar Rp94,06 miliar, diikuti BUVA Rp76,01 miliar, DSSA Rp51,40 miliar, BRPT Rp49,84 miliar, dan PTRO Rp35,45 miliar.
Daftar berikutnya juga menunjukkan asing masuk ke INCO Rp24,10 miliar, TINS Rp23,63 miliar, RAJA Rp17,02 miliar, CUAN Rp16,21 miliar, dan MINA Rp14,55 miliar.
| No | Kode | Net Foreign Buy | Volume |
|---|---|---|---|
| 1 | ASII | Rp94,06 miliar | 19,02 juta |
| 2 | BUVA | Rp76,01 miliar | 104,68 juta |
| 3 | DSSA | Rp51,40 miliar | 114,78 juta |
| 4 | BRPT | Rp49,84 miliar | 27,29 juta |
| 5 | PTRO | Rp35,45 miliar | 8,18 juta |
| 6 | INCO | Rp24,10 miliar | 5,06 juta |
| 7 | TINS | Rp23,63 miliar | 7,17 juta |
| 8 | RAJA | Rp17,02 miliar | 4,88 juta |
| 9 | CUAN | Rp16,21 miliar | 25,72 juta |
| 10 | MINA | Rp14,55 miliar | 44,98 juta |
Pembelian asing terlihat selektif. ASII menjadi tujuan utama, sementara arus masuk juga muncul pada saham properti, energi, tambang, dan konglomerasi.
Namun, tekanan jual asing masih lebih besar. Berdasarkan data Stockbit, tekanan net foreign sell terbesar terlihat pada TPIA, BBCA, AMMN, BREN, BBRI, ANTM, UNVR, TLKM, MDKA, dan PGAS.
| No | Kode | Net Foreign Sell | Volume |
|---|---|---|---|
| 1 | TPIA | Rp948,53 miliar | 479,35 juta |
| 2 | BBCA | Rp594,68 miliar | 102,50 juta |
| 3 | AMMN | Rp67,36 miliar | 20,52 juta |
| 4 | BREN | Rp61,84 miliar | 18,74 juta |
| 5 | BBRI | Rp61,72 miliar | 20,15 juta |
| 6 | ANTM | Rp52,91 miliar | 17,97 juta |
| 7 | UNVR | Rp29,29 miliar | 17,88 juta |
| 8 | TLKM | Rp27,47 miliar | 9,13 juta |
| 9 | MDKA | Rp21,68 miliar | 7,85 juta |
| 10 | PGAS | Rp19,16 miliar | 10,11 juta |
Tekanan ini penting karena beberapa saham yang dilepas asing merupakan saham berkapitalisasi besar dan likuid. BBCA, BBRI, TLKM, TPIA, BREN, dan AMMN punya pengaruh besar terhadap persepsi pasar. Selama tekanan di saham-saham ini belum mereda, rebound IHSG masih perlu dibaca hati-hati.
Saham Penggerak: Komoditas dan Konglomerasi Menguat
Dari sisi movers, sesi 1 memperlihatkan penguatan tajam pada beberapa saham berkapitalisasi besar dan saham dengan volatilitas tinggi. BREN naik 25,00 persen, CUAN menguat 24,75 persen, BUVA naik 24,59 persen, BRPT menguat 23,15 persen, dan PTRO naik 20,59 persen.
Penguatan juga terlihat pada CDIA, RATU, MINA, dan RAJA. Ini menjelaskan mengapa sektor Basic Industry, Energy, dan Cyclical menjadi penopang utama IHSG pada sesi 1.
Namun, kenaikan besar pada top gainer tidak otomatis berarti pasar mengalami pemulihan merata. Investor tetap perlu melihat apakah kenaikan ini didukung volume yang sehat, apakah foreign flow mulai membaik, dan apakah saham perbankan besar ikut memberi konfirmasi.
Risiko lain yang perlu dicermati adalah konsentrasi penguatan. Jika kenaikan indeks terlalu bergantung pada beberapa saham dengan volatilitas tinggi, kualitas rebound bisa rapuh ketika momentum di saham-saham tersebut mulai mereda.
Dari sisi nilai transaksi, saham-saham seperti TPIA, BREN, BRPT, BBCA, CUAN, PTRO, AMMN, ASII, TLKM, BMRI, BBRI, DSSA, ANTM, dan CDIA menjadi pusat aktivitas pasar. Ini menunjukkan perdagangan sesi 1 masih terkonsentrasi pada saham besar, komoditas, dan saham grup tertentu.
Yang Perlu Dipantau di Sesi 2
Ada tiga indikator utama yang perlu dipantau hingga penutupan.
Pertama, apakah IHSG mampu bertahan di atas 6.200. Level ini penting secara psikologis karena menjadi batas awal untuk menilai apakah rebound sesi 1 cukup kuat atau hanya pantulan sementara.
Kedua, apakah net foreign sell mengecil atau justru membesar hingga penutupan. Jika net foreign sell tetap membesar, kenaikan indeks akan lebih sulit dibaca sebagai pemulihan yang solid.
Ketiga, pergerakan saham perbankan besar dan saham penekan asing. BBCA, BBRI, BMRI, TPIA, BREN, AMMN, dan TLKM perlu dipantau karena saham-saham ini punya bobot besar terhadap arah indeks dan persepsi risiko investor.
Untuk saat ini, pembacaan yang lebih hati-hati adalah: IHSG sedang mencoba memantul, tetapi pasar belum sepenuhnya keluar dari tekanan karena arus asing masih negatif. Sesi 2 akan menentukan apakah rebound ini menjadi awal stabilisasi atau hanya pantulan teknikal di tengah tekanan jual asing.
Sumber: Stockbit Sekuritas, data sesi 1 BEI 29 Mei 2026.
Ikuti Banyu Capital
Dapatkan catatan pasar, analisis saham, energi, makro, dan geopolitik langsung melalui email.