Banyu Capital

IHSG Turun 2,87% di Sesi 1, Pasar Masih Defensif Setelah Sell-Off Jumat

Dashboard Market Notes sesi 1 BEI 8 Juni 2026
Dashboard Market Notes sesi 1 BEI 8 Juni 2026. IHSG turun 2,87% ke 5.434,31, seluruh sektor BEI melemah, dan asing mencatat net sell Rp325,30 miliar di All Market.

IHSG kembali melemah pada sesi 1 perdagangan Senin, 8 Juni 2026. Indeks turun 160,46 poin atau 2,87% ke 5.434,31. Pelemahan ini terjadi setelah pasar pada Jumat akhir pekan lalu sudah mengalami sell-off besar.

Koreksi hari ini tidak cukup dibaca hanya sebagai aksi jual asing. Data sesi 1 menunjukkan pelemahan yang lebih luas: seluruh sektor BEI merah, indeks big cap ikut turun, rupiah berada di Rp18.170 per dolar AS, dan pasar Asia juga tertekan. Asing masih mencatat net sell, tetapi nilainya lebih kecil dibanding tekanan akhir pekan lalu.

Jalur tekanannya bukan hanya dari arus asing, melainkan dari kombinasi pelemahan rupiah, sentimen risk-off regional, dan buruknya breadth pasar domestik. IHSG sempat menyentuh low 5.346,34 sebelum pulih sebagian ke 5.434,31. Pantulan ini penting dicatat, tetapi arah pasar masih perlu dikonfirmasi pada sesi 2.

Breadth Pasar Masih Lemah

Pada sesi 1, IHSG dibuka di 5.486,31, sempat naik ke high 5.523,94, lalu jatuh ke low 5.346,34. Turnover pasar mencapai Rp12,92 triliun, dengan volume 20,24 miliar saham dan frekuensi 1.378.878 kali transaksi.

Yang lebih penting, tekanan terlihat dari breadth pasar. Hanya 88 saham yang naik, sementara 646 saham turun dan 79 saham stagnan. Ini menunjukkan pelemahan tidak hanya terjadi pada indeks, tetapi juga menyebar luas ke banyak saham.

Kondisi seperti ini membuat pantulan intraday perlu dibaca hati-hati. Selama jumlah saham turun masih jauh lebih besar daripada saham naik, pemulihan indeks belum tentu mencerminkan perbaikan kualitas pasar secara menyeluruh.

Indeks Big Cap Ikut Melemah

Tekanan juga terlihat pada indeks berisi saham likuid dan big cap. IDX30 turun 2,97%, LQ45 melemah 2,77%, dan SRI-KEHATI turun 2,31%. Kompas100 melemah 2,67%, sementara IDX80 turun 2,59%.

Ini menunjukkan koreksi juga menyentuh saham likuid, sehingga arah sesi 2 akan banyak dipengaruhi oleh pergerakan big cap.

Semua Sektor Merah, Basic Industry Relatif Bertahan

Seluruh sektor BEI berada di zona merah pada sesi 1. Sektor Health menjadi penekan terdalam dengan koreksi 6,01%. Infrastructure turun 4,72%, Cyclical melemah 3,99%, Transport turun 3,62%, dan Industrial melemah 3,32%.

Sektor lain juga belum menunjukkan kekuatan berarti. Non-Cyclical turun 2,95%, Technology melemah 2,77%, Finance turun 2,74%, Property melemah 2,05%, dan Energy turun 1,61%.

Basic Industry menjadi sektor yang relatif paling bertahan dengan penurunan hanya 0,33%. Namun, ketahanan relatif ini belum cukup untuk mengubah gambaran pasar secara umum. Selama mayoritas sektor tetap merah, kondisi pasar masih lebih tepat dibaca defensif daripada rotasi yang sehat.

Setelah pelemahan sektoral terlihat merata, pertanyaan berikutnya adalah apakah asing menjadi pendorong utama koreksi atau hanya salah satu faktor.

Net Sell Asing Mengecil, tetapi Big Cap Masih Ditekan

Data Foreign Activity Midday Stockbit Sekuritas menunjukkan Foreign Buy sebesar Rp5,76 triliun dan Foreign Sell Rp6,08 triliun. Dengan demikian, asing mencatat net foreign sell All Market sebesar Rp325,30 miliar.

Angka ini lebih kecil dibanding tekanan akhir pekan lalu. Namun, jual asing tetap terlihat pada beberapa saham big cap. BBCA menjadi top net foreign sell sebesar Rp328,23 miliar, disusul BBRI Rp205,07 miliar, ANTM Rp94,08 miliar, TLKM Rp88,55 miliar, dan AMMN Rp40,72 miliar.

Di sisi lain, asing masih masuk selektif ke beberapa saham. TPIA menjadi top net foreign buy sebesar Rp209,67 miliar. BUMI mencatat net foreign buy Rp74,61 miliar, disusul BRMS Rp24,80 miliar, DEWA Rp20,78 miliar, dan BIPI Rp15,82 miliar.

Pola ini menunjukkan bahwa tekanan asing tidak merata. Asing masih menjual saham big cap tertentu, terutama bank besar dan beberapa saham likuid lain. Namun, ada juga pembelian selektif pada saham tertentu seperti TPIA dan BUMI. Karena itu, narasi pasar hari ini tidak bisa disederhanakan menjadi “asing keluar dari semua saham Indonesia.”

Rupiah dan Bursa Global Jadi Latar Risiko

Tekanan IHSG juga terjadi ketika rupiah kembali melemah. USD/IDR berada di Rp18.170, naik 0,75%. Di tengah tekanan rupiah, aset berisiko domestik biasanya lebih sensitif terhadap perubahan sentimen.

Data global yang tersedia juga menunjukkan mayoritas indeks utama berada di zona merah. S&P 500 turun 2,64%, Dow Jones melemah 1,35%, Hang Seng turun 1,84%, Nikkei jatuh 4,67%, Shanghai melemah 2,37%, sementara KOSPI Korea Selatan turun sekitar 8%.

Koreksi tajam KOSPI memperkuat konteks bahwa pasar Asia juga sedang defensif. Namun, faktor global tetap perlu dibaca sebagai latar risiko, bukan penyebab tunggal. Pergerakan IHSG tetap harus dilihat bersama faktor domestik seperti rupiah, breadth pasar, sektor, dan foreign flow.

Apa yang Perlu Dipantau pada Sesi 2

Ada beberapa indikator yang perlu dipantau sampai penutupan perdagangan. Pertama, apakah IHSG mampu kembali ke atas 5.500. Jika indeks gagal kembali ke area tersebut, bias pasar masih defensif. Kedua, apakah low intraday 5.346,34 bertahan. Jika level ini kembali diuji, tekanan jual berpotensi belum selesai.

Ketiga, perhatikan apakah net foreign sell membesar atau justru mengecil. Tekanan asing yang membesar pada sesi 2 dapat memperkuat tekanan indeks, terutama jika tetap terkonsentrasi pada BBCA, BBRI, TLKM, ANTM, dan AMMN.

Keempat, pantau sektor Finance, Infrastructure, dan Health. Ketiga area ini penting karena tekanan yang dalam pada sektor-sektor tersebut dapat memperburuk breadth pasar. Kelima, rupiah tetap menjadi variabel penting. Selama USD/IDR masih bertahan di atas Rp18.000, pasar kemungkinan tetap membaca risiko makro sebagai salah satu faktor utama.

Indikator terakhir adalah jumlah saham turun. Jika jumlah saham turun mulai menyempit signifikan, tekanan pasar bisa mulai terbaca mereda meskipun IHSG belum sepenuhnya pulih.

Sesi 1 menunjukkan pasar belum keluar dari mode defensif. Ada pantulan dari low intraday, tetapi belum cukup untuk mengubah kesimpulan utama. IHSG masih perlu membuktikan bahwa pelemahan hari ini tidak berlanjut menjadi tekanan yang lebih dalam pada penutupan perdagangan.

Sumber: Stockbit Sekuritas, RTI Business, CNBC, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes