Banyu Capital

IHSG Naik 1,14% dengan 407 Saham Menguat, Asing Net Buy Rp2,03 Triliun, Rp1,76 Triliun Terjadi di Pasar Reguler

Ahmad Mujib Ahmad Mujib

Penguatan Sesi I bertahan hingga penutupan. IDX30 dan LQ45 mengungguli IHSG, sembilan sektor positif, dan asing mencatat net buy Rp2,03 triliun dengan Rp1,76 triliun melalui pasar reguler. Arus masuk tersebut masih terkonsentrasi pada bank besar.

Dashboard Market Notes EOD BEI 1 September 2026 yang merangkum IHSG, breadth, sektor, dan foreign flow
Dashboard EOD BEI 1 September 2026. IHSG ditutup naik 1,14% dengan 407 saham menguat, sementara asing mencatat net buy Rp2,03 triliun dan sekitar 87% berasal dari pasar reguler. Sumber: BEI, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, dan CNBC Indonesia.

IHSG menutup perdagangan Selasa, 1 September 2026 di 6.599,94, naik 74,47 poin atau 1,14%. Dibanding posisi Midday, kondisi internal pasar semakin kuat sampai penutupan: breadth membaik, IDX30 dan LQ45 tetap mengungguli IHSG, sementara asing mencatat net buy Rp2,03 triliun.

Perubahan paling penting datang dari pasar reguler. Sekitar Rp1,76 triliun dari arus masuk bersih tersebut terjadi di pasar reguler, sementara IHSG ditutup hanya 8,24 poin di bawah level tertinggi harian 6.608,18.

Kenaikan sampai penutupan tidak hanya terlihat pada IHSG. Breadth membaik dan arus asing bertambah, meski sekitar 71% estimasi net buy masih terkonsentrasi pada BBRI, BBCA, dan BMRI. Dua dari 11 sektor juga tetap melemah. Data satu hari belum cukup untuk menunjukkan perubahan rezim pasar.

IHSG Tutup Hanya 8 Poin di Bawah High Harian

IHSG bergerak antara 6.535,80 dan 6.608,18 sebelum ditutup di 6.599,94. Posisi penutupan hanya sekitar 8,24 poin atau 0,12% di bawah level tertinggi harian.

Nilai transaksi saham berdasarkan Bursa Efek Indonesia mencapai Rp20,70 triliun, dengan volume 57,90 miliar saham dan frekuensi sekitar 2,63 juta kali.

Struktur penutupan lebih kuat dibanding posisi Midday. Saat jeda perdagangan, IHSG berada di 6.564,51 atau naik 0,60% dan masih berjarak 21,65 poin dari level tertinggi Sesi I di 6.586,16. Pada penutupan, indeks kembali mendekati high meski level tertinggi harian juga bergeser naik.

Breadth ikut membaik. RTI Business mencatat 407 saham menguat, 215 melemah, dan 169 stagnan. Rasio saham naik terhadap saham turun mencapai sekitar 1,89 kali, dibanding sekitar 1,74 kali pada Midday.

Perbaikan ini menunjukkan kenaikan IHSG pada Sesi II berjalan bersama partisipasi saham yang tetap positif, bukan hanya akibat kenaikan beberapa saham berkapitalisasi besar.

Saham Likuid Memimpin, tetapi Kenaikan Tidak Hanya Datang dari Bank

IDX30 naik 1,67% dan LQ45 1,64%, keduanya lebih tinggi daripada IHSG yang menguat 1,14%. Partisipasi juga terlihat pada kelompok kapitalisasi lebih kecil. IDX SMC Liquid naik 1,94% dan IDX SMC Composite menguat 1,76%.

Sembilan dari 11 sektor ditutup positif. Industrials memimpin dengan kenaikan 3,71%, diikuti Technology 2,90%, Energy 2,39%, dan Financials 1,48%. Basic Materials menjadi sektor terlemah dengan penurunan 0,56%, sementara Infrastructures turun 0,12%.

Perubahan selama Sesi II juga cukup jelas. Technology berbalik dari turun 0,09% pada Midday menjadi naik 2,90% pada penutupan. Sebaliknya, Basic Materials yang sempat naik tipis 0,04% berakhir turun 0,56%.

Bank besar tetap menjadi motor utama IHSG. Berdasarkan IDX Daily Statistics, BBRI menyumbang sekitar 18,97 poin terhadap IHSG, BBCA 11,03 poin, dan BMRI 7,35 poin. Gabungan ketiganya mencapai sekitar 37,35 poin, setara sekitar separuh dari total kenaikan IHSG hari ini.

Besarnya kontribusi bank tidak berarti kenaikan pasar hanya terjadi pada tiga saham tersebut. BUMI menyumbang sekitar 5,14 poin, ASII 4,89 poin, BELI 4,81 poin, CUAN 4,32 poin, dan UNTR 4,08 poin.

Di sisi sebaliknya, DCII menjadi pemberat terbesar sekitar 8,03 poin, diikuti EMAS 7,44 poin, BRMS 2,98 poin, dan INDF 2,92 poin.

Breadth 407 saham naik berbanding 215 saham turun, ditambah kenaikan indeks small-mid cap yang melampaui IHSG, menunjukkan bahwa dominasi bank pada kontribusi indeks tidak sama dengan kenaikan pasar yang sepenuhnya sempit.

Net Buy Asing Bertambah Sekitar Rp1,06 Triliun pada Sesi II

Arus asing menjadi perubahan terbesar dibanding Midday. Bursa Efek Indonesia mencatat net foreign buy sekitar Rp2,03 triliun pada perdagangan 1 September.

Pada Midday, posisi net buy masih sekitar Rp972,64 miliar. Artinya, Sesi II menambah arus masuk bersih sekitar Rp1,06 triliun.

Data Stockbit mencatat pembelian asing sekitar Rp6,95 triliun dan penjualan sekitar Rp4,93 triliun. Stockbit dan RTI Business juga menunjukkan sekitar Rp1,76 triliun net buy terjadi di pasar reguler, sedangkan sekitar Rp263 miliar berasal dari pasar tunai dan negosiasi.

Yang membedakan penutupan dari posisi Midday bukan hanya besarnya net buy. Sekitar 87% arus masuk bersih terjadi di pasar reguler, sehingga angka All Market tidak bergantung pada transaksi negosiasi.

Distribusinya tetap terkonsentrasi. Estimasi Stockbit menempatkan BBRI dengan net buy Rp838,01 miliar, BBCA Rp435,35 miliar, dan BMRI Rp172,25 miliar. Gabungan ketiganya sekitar Rp1,45 triliun atau 71% dari net buy All Market.

Proporsi tersebut hampir sama dengan Midday. Jadi, arus masuk asing meningkat tajam secara nominal, tetapi konsentrasinya belum banyak berubah.

Top 10 Estimasi Net Foreign Buy

Saham Estimasi Net Buy
BBRI Rp838,01 miliar
BBCA Rp435,35 miliar
BUMI Rp172,27 miliar
BMRI Rp172,25 miliar
CUAN Rp132,17 miliar
TPIA Rp131,10 miliar
CPIN Rp74,27 miliar
SMGR Rp56,11 miliar
ESSA Rp50,82 miliar
DEWA Rp44,00 miliar

Top 10 Estimasi Net Foreign Sell

Saham Estimasi Net Sell
KOTA Rp92,74 miliar
ISAT Rp72,30 miliar
EMAS Rp64,10 miliar
BRMS Rp39,97 miliar
ITMG Rp39,47 miliar
DMAS Rp34,87 miliar
IATA Rp31,55 miliar
INDF Rp28,51 miliar
BULL Rp19,24 miliar
INCO Rp16,95 miliar

Angka net foreign buy dan net foreign sell saham individual merupakan estimasi Stockbit Sekuritas.

Rupiah Menguat Tipis, Yield 10 Tahun Bertahan di 6,99%

JISDOR 1 September berada di Rp17.727 per dolar AS, dibanding Rp17.746 pada 31 Agustus. Rupiah menguat Rp19 atau sekitar 0,11%.

SUN tenor 10 tahun berada di sekitar 6,99%. Rupiah yang sedikit lebih kuat dan yield yang relatif stabil tidak menambah tekanan berarti pada konteks pasar domestik hari ini.

Keduanya tetap lebih tepat dibaca sebagai konteks risiko daripada penyebab langsung kenaikan IHSG.

Ujian H+1 Beralih ke Foreign Flow dan Breadth

Penutupan 1 September menjawab sebagian besar pertanyaan yang masih terbuka pada Midday. IHSG kembali mendekati high, breadth membaik, saham likuid tetap memimpin, dan net foreign buy membesar dengan sebagian besar arus masuk terjadi di pasar reguler.

Yang perlu dibuktikan pada perdagangan berikutnya bukan sekadar kemampuan IHSG menembus level tertinggi 6.608,18. Pembacaan pasar akan lebih kuat jika net foreign buy di pasar reguler bertahan, jumlah saham naik tetap lebih banyak daripada saham turun, dan IDX30 serta LQ45 terus berpartisipasi.

Sebaliknya, kualitas lanjutan dari penguatan 1 September mulai melemah jika asing kembali mencatat net sell besar di pasar reguler, breadth berubah negatif, dan bank besar berbalik menjadi sumber tekanan.

Jika kondisi tersebut disertai IHSG kembali ke bawah area 6.535 hingga penutupan sebelumnya di 6.525,48, pembacaan positif dari perdagangan 1 September perlu dievaluasi ulang.

Sumber: IDX, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes