Banyu Capital

IHSG Turun 0,69% dan Tutup Dekat Level Terendah, 10 Sektor Melemah meski Asing Net Buy All Market Rp830 Miliar

Ahmad Mujib Ahmad Mujib

Tekanan yang muncul sejak sesi pertama bertahan hingga penutupan perdagangan Senin, 10 Agustus 2026. IHSG turun 44,280 poin atau 0,69% ke 6.365,374 dan berakhir hanya 2,616 poin di atas level terendah harian, setelah sempat naik hingga 6.462,738.

Sesi kedua tidak memperbaiki tiga kelemahan utama yang terlihat pada Midday. Partisipasi pasar tetap negatif, 10 dari 11 sektor melemah, serta LQ45 dan IDX30 turun lebih dalam daripada IHSG. All Market memang mencatat net buy asing Rp829,69 miliar, tetapi pasar reguler masih net sell Rp875,51 miliar.

Kombinasi itu menunjukkan pelemahan belum mereda hingga penutupan. Namun, tekanan serupa belum terlihat pada rupiah dan SUN 10 tahun. Rupiah justru menguat dan snapshot yield SUN 10 tahun menurun. Karena itu, satu sesi ini belum cukup untuk menandai pergeseran pasar menuju risk-off yang lebih luas.

Dashboard Market Notes EOD Banyu Capital 10 Agustus 2026 yang menampilkan IHSG, breadth pasar, dan foreign flow
IHSG berakhir dekat level terendah harian dengan 10 sektor melemah. All Market asing tetap mencatat net buy, tetapi pasar reguler masih net sell. Sumber: BEI, RTI Business, Stockbit Sekuritas, Bank Indonesia, dan CNBC Indonesia, 10 Agustus 2026.

Gagal Kembali ke 6.400, IHSG Berakhir 2,616 Poin di Atas Terendah Harian

IHSG bergerak dalam rentang hampir 100 poin sepanjang hari. Setelah mencetak level tertinggi 6.462,738, indeks berbalik dan akhirnya ditutup di 6.365,374, hanya sedikit di atas level terendah 6.362,758. Nilai transaksi saham mencapai Rp18,188 triliun.

Dari puncaknya, IHSG kehilangan 97,364 poin atau sekitar 1,51% hingga penutupan. Dibanding posisi Midday di 6.378,399, indeks kehilangan lagi 13,025 poin pada sesi kedua.

Artinya, sesi kedua tidak menghasilkan pemulihan yang dibutuhkan untuk mengubah pembacaan sesi pertama. Area 6.400 tidak berhasil direbut kembali, sementara level terendah sesi pertama 6.372,923 justru dilewati.

Meski demikian, penurunan Senin belum menghapus seluruh kenaikan Jumat. Koreksi 44,280 poin setara sekitar 67% dari kenaikan 65,943 poin pada perdagangan sebelumnya. Satu hari pelemahan karena itu belum cukup untuk diperlakukan sebagai perubahan tren.

Partisipasi Pasar Tetap Negatif, LQ45 dan IDX30 Melemah Lebih Dalam

Tekanan tidak hanya terlihat pada IHSG. RTI Business mencatat 287 saham naik, 329 turun, dan 180 tidak berubah. Sepuluh dari 11 sektor berakhir negatif.

Consumer Non-Cyclicals menjadi sektor dengan pelemahan terdalam sebesar 1,37%, disusul Infrastruktur 1,25% dan Industrials 0,74%. Transportasi dan Logistik menjadi satu-satunya sektor positif dengan kenaikan 6,21%.

Penguatan sektor Transportasi berlangsung di tengah kenaikan tajam sejumlah saham, termasuk GIAA sebesar 33,33% dan GMFI 31,48%. Kondisi tersebut belum cukup mengubah gambaran pasar secara keseluruhan karena mayoritas sektor dan jumlah saham masih berada di zona negatif.

Tekanan juga lebih terasa pada kelompok saham likuid. LQ45 turun 0,96% dan IDX30 melemah 1,01%, lebih dalam daripada koreksi IHSG 0,69%.

Di level saham, TLKM menjadi pemberat terbesar IHSG dengan kontribusi sekitar 8,30 poin negatif. BBRI menyusul sekitar 5,84 poin, BREN 5,42 poin, BMRI 4,90 poin, ASII 4,07 poin, dan BRPT 4,06 poin.

Sebaliknya, SMMA dan MDKA masing-masing memberi kontribusi positif sekitar 2,80 poin dan 2,69 poin.

Kombinasi tersebut menunjukkan bahwa penutupan lemah tidak semata berasal dari pergerakan satu atau dua saham. Pelemahan juga muncul pada partisipasi pasar, sektor, dan kelompok saham likuid.

All Market Positif, tetapi Pasar Reguler Masih Net Sell

Arus asing menjadi bagian yang perlu dibaca lebih hati-hati. Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan investor asing mencatat net buy All Market sekitar Rp829,69 miliar pada 10 Agustus.

Namun, segmentasi pasar menunjukkan gambaran berbeda di perdagangan reguler. Data RTI Business dan Stockbit menunjukkan pasar reguler masih mencatat net sell asing sekitar Rp875,51 miliar, sedangkan pasar Tunai dan Negosiasi mencatat saldo positif sekitar Rp1,71 triliun.

Angka All Market dan pasar reguler tidak saling bertentangan karena cakupan transaksinya berbeda. Artinya, saldo positif di seluruh pasar belum mencerminkan pembelian bersih asing di perdagangan reguler.

Berdasarkan estimasi Stockbit, net foreign buy terbesar terlihat pada DSSA sekitar Rp105,34 miliar, MDKA Rp73,80 miliar, TINS Rp73,77 miliar, BBCA Rp71,99 miliar, dan PSAB Rp45,79 miliar.

Sebaliknya, estimasi net foreign sell terbesar terjadi pada TPIA sekitar Rp369,59 miliar dan BMRI Rp302,73 miliar. Tekanan juga terlihat pada TLKM sekitar Rp127,12 miliar, ASII Rp92,25 miliar, serta BBRI Rp57,90 miliar.

Pola tersebut sejalan dengan tekanan pada beberapa saham besar yang juga menjadi pemberat IHSG. Namun, data per saham tersebut merupakan estimasi platform dan perlu dibedakan dari data All Market resmi BEI.

Rupiah dan Yield Belum Mengonfirmasi Risk-Off yang Lebih Luas

Tekanan saham belum diikuti pelemahan rupiah. JISDOR Bank Indonesia berada di Rp17.795 per dolar AS pada 10 Agustus, dibanding Rp17.913 pada 7 Agustus. Secara harian, rupiah menguat sekitar 0,66%.

Snapshot CNBC Indonesia pada pukul 17.11 WIB menunjukkan yield SUN 10 tahun di 7,188%, turun 0,113 poin persentase. Data primer pada waktu penutupan yang sama belum tersedia untuk mengonfirmasi angka tersebut, sehingga indikator ini hanya menjadi konteks pendukung.

Kondisi rupiah dan yield membatasi pembacaan yang terlalu agresif terhadap pelemahan saham. Data 10 Agustus menunjukkan tekanan yang cukup jelas di dalam pasar ekuitas, tetapi belum menunjukkan tekanan serupa pada indikator domestik tersebut.

Dengan kata lain, sinyal utama hari ini masih berada pada harga saham, partisipasi pasar, indeks likuid, dan komposisi foreign flow, bukan pada perubahan menyeluruh seluruh aset domestik.

Pemulihan di Atas 6.400 Menjadi Bukti Berikutnya

Perdagangan berikutnya perlu menguji apakah kelemahan Senin berhenti sebagai koreksi setelah kenaikan Jumat atau berlanjut.

Pemulihan akan mendapat konfirmasi lebih kuat jika IHSG kembali di atas 6.400, partisipasi saham berubah positif, LQ45 dan IDX30 membaik, serta arus asing pasar reguler ikut pulih.

Sebaliknya, risiko meningkat jika level terendah 6.362,758 ditembus bersama memburuknya partisipasi pasar, saham likuid, dan foreign flow reguler.

Satu hari pelemahan belum membentuk tren baru. Karena itu, kombinasi pergerakan IHSG, breadth saham, indeks likuid, dan arus asing reguler pada perdagangan berikutnya akan lebih penting daripada arah indeks semata.

Sumber: IDX, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.

Ikuti Banyu Capital

#foreign-flow #ihsg #market-notes