IHSG Naik 1,09% dengan 402 Saham Menguat, Asing Net Buy Rp1,11 Triliun di Pasar Reguler
IHSG menutup perdagangan Kamis, 3 September 2026 di 6.667,89, naik 72,12 poin atau 1,09%. Dukungan terhadap penguatan bertambah sampai penutupan karena LQ45 dan IDX30 tetap mengungguli IHSG, sementara asing mencatat net buy Rp1,11 triliun di pasar reguler.
Partisipasi pasar tetap positif, tetapi tidak semakin melebar pada Sesi II. RTI Business mencatat 402 saham menguat, 213 melemah, dan 180 tidak berubah. Sembilan dari 11 sektor berakhir positif, dibanding 10 sektor positif saat Midday.
Saham likuid dan foreign flow memberi dukungan yang lebih kuat sampai penutupan. Yang belum mengikuti adalah perluasan partisipasi pasar, sehingga perdagangan berikutnya tetap menjadi ujian bagi keberlanjutan penguatan.
LQ45 dan IDX30 Memperbesar Keunggulan hingga Penutupan
IHSG bergerak di rentang 6.614,71 hingga 6.681,84 sebelum ditutup di 6.667,89. Nilai transaksi All Market mencapai sekitar Rp18,64 triliun.
LQ45 naik 1,67% dan IDX30 menguat 1,58%, lebih tinggi daripada kenaikan IHSG sebesar 1,09%. LQ45 mengungguli IHSG sekitar 0,58 poin persentase, sedangkan IDX30 unggul sekitar 0,49 poin persentase.
Pola tersebut melanjutkan kondisi Midday ketika LQ45 dan IDX30 juga sudah memimpin. Sampai penutupan, keduanya justru memperbesar kenaikan.
Kepemimpinan saham likuid juga terlihat pada kelompok small-mid cap. IDX SMC Liquid naik 1,52%, sedangkan IDX SMC Composite hanya menguat 0,84%.
Meski demikian, beberapa saham besar masih memberi kontribusi cukup besar terhadap kenaikan indeks. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, BBCA menyumbang sekitar 8,82 poin, ASII 8,55 poin, BMRI 8,16 poin, dan AMMN 6,74 poin terhadap IHSG.
Empat saham tersebut secara gabungan menyumbang sekitar 32,27 poin atau 44,7% dari total kenaikan IHSG sebesar 72,12 poin.
Kenaikan indeks tidak hanya ditopang beberapa saham besar karena breadth tetap positif. Meski begitu, empat big caps terbesar masih menyumbang sekitar 44,7% dari kenaikan poin IHSG.
Breadth Tetap Positif, tetapi Tidak Melebar pada Sesi II
RTI Business mencatat 402 saham naik, 213 turun, dan 180 tidak berubah hingga penutupan. Jumlah saham yang menguat masih hampir dua kali jumlah saham yang melemah.
Dibanding snapshot Midday, breadth EOD tidak menunjukkan pelebaran tambahan. Pada Sesi I, RTI Business mencatat 423 saham naik dan 209 turun.
Angka breadth dalam tulisan ini menggunakan RTI Business agar perbandingan Midday dan EOD berada pada sumber yang sama. Statistik Bursa Efek Indonesia menggunakan klasifikasi universe yang berbeda sehingga angkanya tidak dibandingkan langsung.
Pola serupa terlihat pada sektor. Transportation & Logistic menjadi penguat terbesar dengan kenaikan 2,45%, disusul Industrials 1,89%, Consumer Non-Cyclicals 1,62%, Basic Materials 1,47%, Property 1,40%, dan Energy 1,36%.
Infrastructure naik 0,85%, Financials 0,81%, dan Consumer Cyclicals 0,41%.
Dua sektor berakhir negatif. Technology turun 1,62%, sedangkan Healthcare melemah tipis 0,02%. Saat Midday, Healthcare masih berada di zona positif sehingga 10 dari 11 sektor masih menguat.
Dukungan pasar memang tidak bertambah luas pada paruh kedua perdagangan, tetapi kondisinya masih positif: sembilan sektor menguat dan jumlah saham naik tetap jauh lebih banyak daripada saham turun.
Net Buy Rp1,11 Triliun di Pasar Reguler Menjawab Pertanyaan dari Midday
Perubahan paling penting dari Midday datang dari foreign flow.
Pada EOD, asing mencatat pembelian sekitar Rp6,22 triliun dan penjualan Rp5,15 triliun di All Market. Hasilnya adalah net foreign buy sekitar Rp1,07 triliun.
Di pasar reguler, net foreign buy mencapai Rp1,11 triliun. Sementara itu, transaksi Tunai dan Negosiasi justru mencatat net sell sekitar Rp37,17 miliar.
Komposisi tersebut menunjukkan beli bersih asing secara agregat tidak didorong oleh transaksi Tunai dan Negosiasi. Nilai net buy di pasar reguler justru sedikit lebih besar daripada All Market.
Data pasar reguler melengkapi gambaran yang belum tersedia saat Midday. Pada Sesi I, All Market baru mencatat net buy Rp554,48 miliar, sementara data pasar reguler belum tersedia.
Estimasi Stockbit juga menunjukkan pembelian asing cukup besar pada sejumlah saham likuid.
| Estimasi Net Foreign Buy | Nilai | Estimasi Net Foreign Sell | Nilai |
|---|---|---|---|
| BMRI | Rp471,38 miliar | BULL | Rp97,31 miliar |
| BBCA | Rp207,10 miliar | BUMI | Rp87,98 miliar |
| CPIN | Rp131,92 miliar | PTRO | Rp84,84 miliar |
| ANTM | Rp108,95 miliar | KOTA | Rp82,47 miliar |
| ADRO | Rp95,05 miliar | BRMS | Rp65,28 miliar |
| TPIA | Rp94,04 miliar | CUAN | Rp57,07 miliar |
| BBNI | Rp87,40 miliar | ISAT | Rp56,02 miliar |
| ERAA | Rp83,19 miliar | EMAS | Rp51,02 miliar |
| ASII | Rp64,17 miliar | MDIA | Rp44,98 miliar |
| DSSA | Rp57,20 miliar | ARCI | Rp23,57 miliar |
Perubahan BBCA cukup menonjol. Pada Midday saham ini masih berada pada estimasi sisi net sell, tetapi pada EOD berbalik menjadi estimasi net buy Rp207,10 miliar.
BMRI juga memperbesar estimasi net buy dari sekitar Rp270,59 miliar pada Midday menjadi Rp471,38 miliar saat penutupan.
Kombinasi tersebut konsisten dengan penguatan indeks saham likuid. Meski demikian, satu hari net buy belum cukup untuk menunjukkan bahwa asing telah memasuki fase akumulasi yang berkelanjutan.
Rupiah Menguat, Yield SUN 10 Tahun Berada di 7,102%
Rupiah juga bergerak menguat pada 3 September, sementara yield SUN 10 tahun berada di sekitar 7,102%.
JISDOR Bank Indonesia tercatat Rp17.689 per dolar AS, menguat Rp81 dibanding Rp17.770 sehari sebelumnya.
Pergerakan rupiah dan yield SUN menjadi konteks pendukung. Bukti yang lebih langsung terhadap kondisi perdagangan 3 September tetap datang dari breadth, kepemimpinan saham likuid, dan foreign flow pasar reguler.
Tiga Bukti yang Perlu Bertahan pada 4 September
Perdagangan berikutnya akan menguji apakah dukungan yang terlihat pada 3 September dapat bertahan.
Pertama, foreign flow pasar reguler perlu tetap positif atau setidaknya tidak berbalik menjadi net sell material. Satu hari beli bersih lebih dari Rp1 triliun belum cukup untuk membentuk tren.
Kedua, LQ45 dan IDX30 perlu mempertahankan kepemimpinan. Jika kedua indeks kembali tertinggal dari IHSG, salah satu ciri utama penguatan 3 September akan hilang.
Ketiga, breadth perlu tetap positif dan idealnya kembali melebar. Jika asing berbalik net sell, saham turun mulai mendominasi, dan saham likuid kehilangan kepemimpinan secara bersamaan, pembacaan terhadap penguatan 3 September perlu ditinjau ulang.
Sumber Data: IDX, Stockbit Sekuritas, RTI Business, Bank Indonesia, CNBC Indonesia, Banyu Capital.
Ikuti Banyu Capital
Dapatkan catatan pasar, analisis saham, energi, makro, dan geopolitik langsung melalui email.